//
you're reading...
Film

Sejarah Film Indonesia part IV


Masa Pembaharuan dan Kehancuran

(1950-1957)

                Tahun 1950 bangsa Indonesia sedang bergembira karena negara telah merdeka sepenuhnya, keamanan telah pulih dan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang makmur ada di depan mata. Orang yang mengungsi telah kembali ke kota dengan semangat menggelora untuk ikut membangun Indonesia di segala aspek. Usmar dkk yang pulang dari Yogjakarta, mengundurkan diri dari militer untuk terjun dalam bidang pembuatan film. Dengan modal patungan dari upah mereka, mereka mendirikan PERFINI (Perusahaan Film Nasional) inilah perusahaan film milik pribumi yang pertama dalam sejarah. Beberapa bulan kemudian Djamaludin Malik, pedagang dan pemilik 2 opera mendirikan perusahaan PERSARI (Perseroan Artis Indonesia).

                Kegembiraan masyarakat yang tenggelam dalam suasana kemerdekaan membuat mereka menyukai film hasil karya bangsa Indonesia. 1 tahun kemudian pesta kegembiraan mulai kendur karena gambaran mimpi kemakmuran semakin suran, keadaan ekonomi mulai memburuk, politisi terus saja ribut dan masyarakat menjadi kecewa pada polisi dan sebagainya termasuk kepada dunia film Indonesia karena masih saja kualitasnya rendah. Kekecewaan masyarakat khusunya kalangan menengah ke atas pada perfilman Indonesia akan terus berkelanjutan.

A. PERFINI, PERSARI dan CINA

                Jenis perusahaan film yang ada pada periode ini secara garis besar terbagi dalam 3 jenis, yaitu PERFINI, PERSARI dan perusahaan film milik CINA.

  • PERFINI adalah jenis yang idealis. Usmar mengatakan bahwa film yang akan dibuat oleh perusahaannya berbeda dari film sebelum perang. Menurut Usmar film Indonesia harus:
  1. Tidak bertujuan mencari uang semata
  2. Merupakan hasil seni yang bebas
  3. Mencerminkan kepribadian bangsa
  • PERSARI milik Djamaludin Malik bertujuan membuat film yang laku tapi kemasannya bagus dan tidak memiliki cita-cita ideal yang tinggi.
  • Perusahaan film milik CINA, baik masa sebelum perang maupun yang baru umumnya bertujuan mencari uang, membuat film yang murah dan laku dipasaran dan mutu artistik tidak menjadi persoalan.

Yang disebut sebagai Produser film pada masa itu adalah yang memiliki studio. Sampai tahun 1957 ada 6 studio yang berdiri yaitu Persari, Perdini, Tan & Wong Bros, Garuda, Golden Arrow dan Bintang Surabaja. Perusahaan film yang tidak memiliki studio disebut sebagai Freelance Produser, produser jenis ini jumlahnya banyak baik itu milik Cina maupun Pribumi. Yang pribumi umumnya karena didorong rasa tanggung jawab untuk ikut membangun perfilman Indonesia. Disamping produser swasta ada PFN (Perusahaan Film Negara). Hasil dari produksi PFN adalah film “Si Pintjang” (1951) hasil karya dari Kotot Sukardi sedangkan film “Pulang” (1952) di produksi oleh swasta karya Basuki Effendi.

2 produser yaitu Usmar dan Djamaludin menjadi tokoh andalan, mereka disebut sebagai “Dwi Tunggal” perfilman. Orang-orang berharap bahwa idealismenya Usmar dan pintar mencari keuangannya Djamaludin bisa menjadi perpaduan dalam memimpin perfilman Indonesia.

                Dalam 2 tahun saja, Persari sudah mempunyai studio hebat di wilayah Polonia. Dilengkapi kolam renang, lapangan Tenis dan restoran. Hal ini karena kepandaian Djamaludin dalam memcari uang. Studio Persari adalah studio terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

B. Kritikan Keras

                Tahun 1950 film Indonesia laris karena didorong rasa cinta pada tanah air meskipun kualitasnya jauh dibawah film Amerika. Film “Darah & Doa” (1950) yang diproduksi oleh Perfini diputar di bioskop Rex, dipenuhi orang yang ingin menonton sedangkan film Amerika di bioskop Grand, tak begitu ramai. Orang dengan suka hati memaafkan berbagai kekurangan teknis maupun artistik dari film dalam negeri.

                Akan tetapi setahun kemudian penonton mulai jenuh dan kecewa menyaksikan kualitas film Indonesia hanya segitu saja. Pembuat film Cina mulai dilontari tuduhan “A Nasional” karena cerita film mereka seperti Opera/Tonil, alhasil produser Cina kebingungan dan berusaha membuat film tentang masa revolusi. Cerita film jadi bertele-tele dan banyak dialognya. Kritikan terhadap film Indonesia semakin pedas, tuntutan pers dan masyarakat menengah semakin tidak bisa dijangkau, maka terulang lagi kejadian di masa sebelum perang, para pembuat film meninggalkan kelas menengah dan melayani kelas bawah saja.

C. Persaingan Film

                Film dalam masa ini hanya diputar di bioskop kelas 2 ke bawah, pemilik bioskop kelas 1 tidak memberi kesempatan bahkan untuk memutar lagu Indonesia saja mereka harus dipaksa. Di bioskop-bioskop kelas ini bermunculan film buatan Malaysia dan Filipina, secara cepat menarik perhatian penonton di kelas bawah. Teknik pembuatan fil Filipina memang jauh lebih baik apalagi pemainnya cantik dan tampan (Indo) dan sudah di dubbing ke dalam bahasa Indonesia sedangkan film Malaysia ceritanya sederhana dan berisi lagu-lagu merdu. Sejak tahun 1952 film India juga sudah mulai diputar tetapi tidak begitu menarik perhatian. Mulai dari sana, sebagian besar pasar film Indonesia direbut.

                Atas usaha orang film maka film Filipina tidak di dubbing lagi, artis dubber-nya takut dituduh sebagai orang “A Nasional”. Film Filipina segera tidak laku meski diberi teks bahasa Indonesia karena sebagian besar penontonmasih buta huruf latin. Film Malaysia semakin laku terutama yang di bintangi oleh P. Ramli dan Kasma Booty. Pemasaran film Indonesia semakin terseok-seok.

D. Idealisme Terpojok

                Sejak awal berdirinya Perfini sudah kekurangan uang karena hanya dikumpulkan dari hasil uang pesangon dan hanya cukup membiayai 50% modal pembuatan film “Darah & Doa”, ditambah lagi orang-orang dalam perusahaan ini tidak ada yang bisa mencari uang. Film-film bermutu yang mereka garap akhirnya susah untuk dipasarkan akibat semakin banyaknya film kodian yang dibuat oleh Cina.

                Hal ini juga dialami oleh pembuat film idealis seperti Usmar, sesudah membuat 1 film perusahaannya bubar. Perfini sudah mulai goyah sejak tahun 1954-1955. Film “Krisis” (1953) yang sangat laku tidak bisa menolong semua hutang Perfini pada Bank, namun begitu Perfini terus saja membuat film bermutu.

E. Penanggulangan

                Sejak awal orang film sudah meminta agar Pemerintah menaruh perhatian pada film Indonesia tapi Pemerintah saat itu hanya Kabinet Parlementer yang sering berganti-ganti, tidak pernah sempat memahami problema perfilman secara mendalam dan bisa mengambil langkah.

                Untuk menanggulangi kekurangan SDM, Persari mengirimkan beberapa orangnya untuk belajar di studio film Filipina sedangkan Perfini memasukkan tenaga-tenaga muda lulusan SLA dan diberlakukan kursus acting bagi para bintang yang dikontrak oleh Perfini, ternyata kursus ini berkembang yang kemudian dilembagakan menjadi ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia).

                Tahun 1954 Djamaludin dan Usmar mempelopori dan mendirikan PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia) lalu menjadi anggota FPA (Federation of Motion Picture Producers in Asia). Dengan ini Indonesia akan bisa menyertakan filmnya ke Festival Film Asia, ini adalah suatu langkah yang besar dan berani. Untuk festival tersebut Persari dan Perfini membuat produksi film bersama yaitu film “Lewat Jam Malam” (1954) dimodalkan oleh Djamaludin, Skenario oleh Asrul Sani dan Sutradara Usmar Ismail. Film ini merupakan “masterpiece” untuk ukuran Indonesia masa itu. Tetapi sangat disayangkan film tersebut tidak bisa diikutsertakan ke Festival Asia di Tokyo karena pemerintah melarang. Pemerintah RI sedang ada persoalan dengan Pemerintah Jepang mengenai kewajiban Jepang membayar “rampasan perang”.

                Pada tahun 1954 itu juga PPFI memperjuangkan agar film Indonesia bisa diputar di bioskop kelas 1, walikota Jakarta Soediro menyambut perjuangan tersebut dengan membuat SK yang mewajibkan bioskop kelas 1 di wilayahnya memutar 1 film Indonesia dalam masa 6 bulan sekali. Sejak saat itu mulai diputar film Indonesiaantara lain film “Krisis” yang mendapat sukses besar di bioskop Metropol. Akan tetapi upaya ini ternyata tidak membantu karena kalau tidak laku diputar di bioskop kelas 1 akibat bersaing dengan film Amerika akan berakibat pada pemasaran di daerah merosot.

                Karena tidak jadi ikut Festival Film Asia maka pada tahun 1955 PPFI menyelenggarakan sendiri Festival Film Indonesia. Tapi langkah ini tidak memberikan hasil yang baik bagi perkembangan perfilman karena dinilai ada “blunder” hinggan festival ini tidak dilanjutkan lagi.

                Sementara itu, bioskop kelas bawah sudah mulai dipenuhi film India. Film asing yang semula tidak menjadi perhatian secara cepat bisa memikat hati rakyat, terutama lagunya yang melankolis. Dikarenakan kebanyakan orang menonton untuk menghafal lagunya, akibatnya masa putar suatu film bisa panjang. 1 film yang laris bisa diputar sampai 1 bulan, maka dari itu kesempatan untuk film Indonesia masuk ke bioskop kelas bawah menjadi sangat sempit. Orang film segera meminta perhatian pada pemerintah untuk mengurangi kuota film India, pemerintah tidak tegas dalam menangani soal kuota ini sehingga importir sempat memasukkan film India sebanyak mungkin.

                Awal bulan Maret tahun 1956 para pemain dan pekerja film melakukan kongres yang melahirkan PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia). Usai kongres para artis berpawai ke gedung DPR dan ke istana presiden untuk membacakan usul mereka. Isinya adalah agar pemerintah ikut bertanggung jawab mengembangkan perfilman nasional dengan membantu pengembangan kemampuan para artis serta melindungi film Indonesia dari film import. Jawaban dari pihak presiden Soekarno justru dirasa membanting perasaan orang film, Soekarno mengkritik mutu film nasional.

F. Tutup Studio

                Dalam keadaan tidak menentu karena segala daya upaya tidak membuahkan hasil, melihat film India semakin merajalela. Sebagian besar bioskop kelas bawah dikuasai film India sedangkan film Indonesia banyak tersimpan digudang. Film Perfini “Tamu Agung” (1955) yang mendapat hadiah khusus sebagai film komedi terbaik di Festival Film Asia, tidak bisa banyak bergerak di pemasaran Indonesia sendiri. Banyak perusahaan sudah mulai gulung tikar atau menahan diri.

                Pada akhir tahun 1956 muncul tulisan yang mengatakan bahwa di gudang Importir, tersedia film India untuk bisa menutup bioskop kelas bawah serta pasar film Indonesia selama 3 tahun ke depan dikarenakan pemerintah tetap saja tidak memperlihatkan perhatiannya maka pada 19 Maret 1957 PPFI memutuskan untuk menutup Studio, itu artinya semua anggotanya akan berhenti memproduksi film. Pemerintah kaget, bahkan penguasa militer meminta keterangan karena dikhawatirkan tindakan PPFI ini berbau politik dan bisa mengganggu keamanan nasional. Karena dibelakang PPFI adalah Usmar Ismail yang digosipkan sebagai anggota/simpatisan PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Djamaludin Malik adalah tokoh NU (Nahdatul Ulama), kedua partai tersebut bertentangan keras dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sedang naik daun.

                Mereka menjelaskan kepada Menteri Perekonomian bahwa penutupan studio adalah semata masalah ekonomi dan tidak adanya usaha Pemerintah untuk membantu, dijelaskan pula bahwa usaha orang film agar adanya suatu kementerian yang membina perfilman. Menteri Perekonomian memohon dengan sangat agar PPFI kembali aktif dengan janji bahwa Pemerintah akan mengusahakan adanya kementerian yang ditugaskan membina perfilman Indonesia. PPFI  mengikuti permintaan pemerintah untuk membuka studio kembali tetapi janji Pemerintah baru terlaksana 7 tahun kemudian.

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: TAK ADA ROTAN AKAR PUNJABI / ID « ACE HOUSE - 6 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Myself

Blog Stats

  • 137,379 hits

Follow Me

Tweets

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d bloggers like this: