//
you're reading...
Film

Sejarah Film Indonesia part III


Masa Perubahan Orientasi

(1942-1949)

                Rentang waktu 1942-1949 sebenarnya ada 2 periode sejarah, dari tahun 1942-1945 adalah masa Indonesia diduduki oleh tentara Jepang dan tahun 1945-1949 adalah masa Revolusi. Kedua masa tersebut pada hakekatnya adalah masa perang yang terjadinya perubahan tata nilai dan orientasi. Dalam sejarah film, rentang waktu itu hanya mengenai kita sebagai sudut perubahan orientasi orang Indonesia terhadap pemahaman tentang film, fungsi dan tugas film.

A. Perubahan

                Bangsa Indonesia benar-benar terkejut menyaksikan Belanda yang selama ini tidak terkalahkan oleh perlawanan pribumi bisa bertekuk lutut oleh Jepang hanya dalam tempo 10 hari. Secara sinis, Jepang minta maaf kepada Indonesia karena tidak bisa memperlihatkan film dokumentasi pertempuran penaklukan Belanda alasannya karena pertempuran yang begitu singkat dan cepat. Bangsa Belanda yang selama ini dijadikan ukuran kemajuan oleh “pribumi modern” tiba-tiba dibanting oleh Jepang sebagai Bangsa yang Tidak berharga. Cita-cita jepang adalah mendirikan suatu kawasan yang disebut sebagai “Asia Timur Raya” termasuk Indonesia. Dan untuk itu bersama-sama menghalau dominasi Barat dari Asia.

                Peristiwa perubahan yang begitu cepat dan gegap gempita dengan konsep-konsep baru membuat segala macam ukuran berubah drastis. Pada seni pentas yang selama ini dianggap sebagai bidang kegiatan yang tidak layak bagi orang baik-baik, muncullah perkumpulan sandiwara “Maya” yang anggotanya para intelektual muda masa itu. Dibawah pemimpin dari Penyair Usmar Ismail, perkumpulan itu terhimpun oleh Wartawan/Penulis Rosihan Anwar, Kritikus Sastra H.B. Jassin, Pencipta Lagu C. Simanjuntak. Tokoh yang kemudian akan membuat pembaharuan pula di bidang film.

B. Seni Sebagai Alat Propaganda

                Seluruh cabang seni ditetapkan oleh Jepang dan harus menunjang perang Asia Timur Raya, maka dari itu semua studio film milik Cina ditutup. Satu-satunya studio yang memproduksi adalah Nippon Eiga Sha yang didirikan oleh pihak Jepang di studio Multi Film. Orang-orang pentas yang tadinya eksodus ke film kini kembali ke dunia panggung. Orang panggung merubah konsep lama dengan konsep propaganda medan perang yang cerita mempropagandakan mendukung perang Asia Timur Raya dan membangkitkan rasa kebangsaan melawan dunia Barat. Selebihnya masyarakat panggung ini hidup sebagai lingkungan yang tertutup dan tidak mau susah-susah. Nasib para produser film Cina yang studionya ditutup menyambung hidup dengan usaha dari nol.

                Nippon Eiga Sha mengutamakan pembuatan film cerita dan penyuluhan. Film dengan panjang normal dibuat hanya 1 saja yaitu film “Berdjoang” (1943). Beberapa film dibuat dengan masa putar 30 menit, antara lain “Di Menara”, “Djatoeh Berkait”, dan “Hoejan” yang sutradaranya adalah orang Indonesia tapi dalam produksi selalu didampingi Sutradara Jepang Bunjin Kurata. Film cerita yang sedikit itu memperlihatkan fungsi dan tugasnya yang berbeda 180 derajat dengan film buatan Cina sebelum perangfilm “Berdjoang” tidak diberi bumbu sebagai film hiburan meski ada romansa di dalamnya tetapi mempunyai misi penting tentang tanggung jawab terhadap Tanah Air dan Bangsa.

                Di studio Nippon Eiga Sha diselenggarakan bagi karyawan-karyawannya kursus pengetahuan tentang pembuatan film dan ini adalah hal baru terjadi biasanya hanya jadi kuli di studio milik Cina yang pengetahuan pembuatan film selalu dirahasiakan oleh pihak “tauke” (sutradara).

                Film-film Jepang yang secara terus menerus didatangkan ke Indonesia adalah film propaganda perang. Propagandanya berkualitas dan tanpa hiburan. Secara artistik semua film Jepang memang sudah mempunyai keunggulan tersendiri pada masa itu, dampak yang ditimbulkan begitu kuat dalam menyakinkan betapa hebatnya Nippon (Jepang). Tetapi sangat disayangkan, kesempatan untuk orang terjun ke film tertutup sama sekali hingga tak bisa dipastikan berapa besar antusias orang untuk menerjuni dunia film dengan orientasi baru. Tapi kita bisa memastikan bahwa media modern ini menjadi sangat menarik bagi para seniman muda dengan melihat kegiatan yang terjadi pada masa revolusi di Yogjakarta.

C. Diskusi dan Kursus di Yogjakarta

                Pemerintah RI yang berdiri bulan Agustus 1945, seketika menjadui tidak aman karena tentara Belanda mendarat di Indonesia. Belanda menamakan dirinya NICA, studio Nippon Eiga Sha yang diserahkan oleh Jepang kepada Kementrian Penerangan RI direbut Belanda dan dijadikan Multi Film kembali. Petugas Kementrian Penerangan R. M. Soetarto diserahkan studio oleh Jepang dan mendirikan BFI (Berita Film Indonesia) dan terpaksa menyingkir ke kota Solo.

                Di Jakarta semakin banyak terjadi pertempuran antara NICA dengan para pejuang. Pada tahun 1946 kedudukan Pemerintah RI terpaksa pindah ke Yogjakarta, para pemimpin dan tokoh ternama dibawa ke sana begitu pula para seniman termuka seperti Andjar Asmara, Usmar Ismail bersama teman-teman di pusat kebudayaan.

Disana, Usmar dan teman-temannya bergabung ke dunia militer. Usmar yang diberi pangkat Mayor diberi tugas utama sebagai pimpinan koran dan majalah kebudayaan dan sempat menjabat PWI pusat, sebagai kegiatan diluar itu semua, Usmar dan teman-teman menyelenggarakan Diskusi Film. Mereka mendiskusikan film Amerika berjudul “Gone With The Wind” yang kebetulan ada copy-annya di Yogjakarta, mereka mengundang orang-orang yang berpengalaman membuat film untuk memberikan pengetahuannya kepada mereka. Kegiatan ini sangat sederhana tetapi telahmemperlihatkan dengan jelas ketertarikan Usmar Ismail Dkk. terhadap film sebagai media modern yang dimasa sebelumnya dianggap tabu oleh kalangan terpelajar.

Bukti telah terjadinya perubahan sikap bangsa Indonesia terhadap film adalah dengan didirikan 2 institusi pendidikan film di Yogjakarta yaitu KDA (Kino Drama Atelier) dan CDI (Cine Drama Institute) tetapi kenyataanya kedua lembaga tersebut hampir tidak pernah mengajarkan ilmu film kepada muridnya karena memang gurunya tidak ada, usianya pun tidak lama karena tahun 1948 Yogjakarta sudah direbut Belanda. Tapi dengan didirikannya kedua sekolah itu memperlihatkan bahwa sekarang orang menganggap bahwa bidang film ini perlu dimasuki. Artinya film bukan lagi dipandang sebagai bidang yang tidak layak dan hanya pantas dimasuki oleh orang panggung yang tidak berpendidikan. Timbulnya perubahan sikap dan orientasi ini perlu dicermati untuk bisa memahami terjadinya perubahan pendekatan yang besar ketika kesempatan membuat film kembali terbuka sejak tahun 1950.

D. Belanda Belum Berubah

                Pada tahun 1948 studio Multi Film di Jakarta, Belanda sudah memulai kegiatan membuat film cerita karena pada masa itu seluruh kota besar di Indonesia sudah direbut Belanda. Disutradarai oleh Andjar yang hijrah dari Yojakarta ke Jakarta dan para pekerja teknisnya adalah orang Belanda yang terikat dinas militer. Mereka menamakan SPFC (South Pasific Film Corp) yang dikerjakan di studio Multi Film. Andjar membuat film “Djaoeh Dimata” dan “Gadis Desa”, Usmar pun ikut membantu menangani film “Gadis Desa”. Cerita “Djaoeh Mata” adalah tiruan dari film Amerika yang berjudul “You Always in My Heart”.

                Usmar datang ke Jakarta pada tahun 1947 sebagai wartawan untuk meliput jalannya suatu perundingan antara pemerintah RI dengan Belanda akan tetapi Belanda mengetahui bahwa Usmar adalah Mayor TNI lalu Ia ditangkap. Atas bantuan seorang tokoh, Usmar bisa dibebaskan beberapa bulan kemudian. Ada yang bilang bahwa kebebasannya itu dengan memenuhi syarat bahwa Ia harus membantu Andjar di SPFC karena Ia juga sutradara sandiwara pada masa Jepang. Setelah menjadi asisten Andjar, Ia membuat sendiri 2 film yaitu “Harta Karun” dan “Tjitra” di SPFC. “Harta Karun” adalah hasil karya dari sastrawan besar Molier sedangkan film “Tjitra” berasal dari naskah sandiwara karya Usmar sendiri. Dalam pemilihan cerita, Usmar memperlihatkan perbedaan yang mencolok dari pembuat film sebelumnya karena kedua cerita itu mengandung misi penting.

                Tetapi Usmar kurang suka mengakui kedua film tersebut sebagai karyanya karena dalam pembuatan film tersebut dia terkekang oleh keinginan kamerawan. Kamerawan yang notabene adalah orang Belanda, memperlakukan Usmar dan sutradara lainnya yang bekerja di SPFC hanya sebagai pelatih acting dan dialog saja maka dari itu setelah selesai, Usmar tidak mau menyutradarai film lagi. Alhasil, apa yang terjadi di studio Belanda ini hanya meneruskan tradisi masa sebelum perang. Hal ini bisa dipahami karena orang Belanda yang terlibat adalah orang biasa yang direkrut sebagai wartawan perang dan tenaga pribumi adalah dari masyarakat panggung.

E. keadaan di Studio Cina

                Melihat orang Belanda sudah mulai membuat film maka pada tahun 1949 ketika keadaan sudah mulai tenang, para produser Cina mulai bangkit lagi. The Teng Chun dengan Fred Young mendirikan “Bintang Surabaja” bertempat di studio JIF sedangkan Tan Koen Youw bersama Wong mendirikan “Tan & Wong Bros” bertempat di studio Wong. Mereka membuat film percintaan dan film action yang tak jauh berbeda dengan masa sebelum perang. Kalangan Cina dan masyarakat panggung sebelum perang mempunyai kesamaan yaitu tertutup dalam lingkungan sendiri, mereka tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi di luar sana. Apalagi yang menyangkut pemikiran dan pengembangan kebudayaan.

F. Akhir periode

Masa perang telah berakhir dengan ditandatangani perjanjian KMB dan berkuasanya RI atas wilayah Indonesia sejak 1950. Periode sejarah film berakhir pada saat munculnya Konsep Baru dalam pembuatan film pada awal tahun 1950 yang dipelopori oleh usmar Ismail dkk.

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

One thought on “Sejarah Film Indonesia part III

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://joinkerjaonline.blogspot.com/

    Posted by widiagroup | 9 May 2011, 7:10 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Myself

Blog Stats

  • 137,379 hits

Follow Me

Tweets

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d bloggers like this: