//
you're reading...
Film

Sejarah Film Indonesia part II


Masa “Terang Boelan”

(1939 – 1942)

Sukses dengan komersial peredaran film “Terang Boelan” di tahun 1938, telah memperlihatkan dengan jelas bahwa usaha pembuatan film bisa menjadi bisnis yang sangat layak dan telah menemukan resepnya. Maka di tahun 1939 mulai bermunculan perusahaan film baru, semuanya di miliki oleh Cina. Perusahaan Tan’s Film yang berhenti sejak tahun 1932, dihidupkan kembali melalui kerjasama dengan Wong Brother’s yang kini mempunyai studio cukup besar di Bilangan Bidara Cina. Nama-nama perusahaan baru lainnya adalah Star Film, Oriental Film, mayestic Film, Populer Film, Union Film dan Standard Film.

A. Resep “Terang Boelan”

Semua perusahaan yang baru maupun lama, semuanya menggunakan resep dari Film “Terang Boelan” dalam pembuatan produksi mereka. Pola resep itu adalah adanya pasangan pemain yang menjadi idola, ceritanya mengandung kisah percintaan, ada scene “action”, ekstra humor dan alunan musik yang merdu. Maka JIF menciptakan pasangan pemain M. Mochtar dan Hadidjah yang mereka ekspose supaya terkenal. Sejak periode ini dimunculkan “sistem Bintang” (Star System) dalam dunia film di Indonesia, dimana pembuatan film sangat tergantung pada popularitas bintang.

Peniruan resep “Terang Boelan” sampai menarik orang-orang dunia panggung/opera untuk menjadi pemain film dan sebagainya dan berakibat pada dunia panggung yang seiring “mati” pada tahun 1940. Dalam memperebutkan bintang yang populer, wong Brother’s lah yang menang karena mereka memiliki Roekiyah dan menariknya untuk bergabung di Tan’s Film. Nama Roekiyah semakin berkibar sebagai Bintang Idola, segala macam pakaian yang dikenakan oleh Roekiyah dalam Film menjadi mode wanita pada masa itu (Trendsetter).

                Tapi perusahaan yang paling produktif adalah perusahaan film milik The Teng Chun terutama karena mereka berhasil menarik para tokoh panggung yang berpotensial. Andjar Asmara dkk. (mantan pemain opera Dardanella) termasuk pemain ternama Tan Tjeng Bok, Astaman dan Ratna Asmara. Perusahaan Teng Chun juga unggul dalam hal publisitas berkat gagasan dari Andjar Asmara yang sangat berpengalaman sebagai wartawan maupun orang Dardanella, berkat publisitas ini maka nama perusahaan dan semua film buatannya jauh lebih ternama dan berhasil menjadi Box office. Perusahaan ini juga memiliki orkestra khusus untuk bagian ilustrasi musik dibawah komando Mas Sardi dan inilah orang pertama yang mencalonkan dirinya sebagai penata musik film.

B. Tuntutan Kalangan Terpelajar

                Nasib baik bagi perfilman Indonesia saat itu, karena ditunjang oleh adanya gerakan “Mencintai Produksi  dalam Negeri” yang digalakkan oleh para Orang Pergerakan (istilah aktivis pada masa itu) untuk mananamkan rasa kebangsaan sebagai persiapan menuju kemerdekaan. Dalam propaganda ini dihimbau agar masyarakat mencintai film buatan dalam negeri, nasehat itu ditunjukkan kepada Kalangan Terpelajar yang selama ini mengambil jarak untuk menonton film rakyat karena kalangan ini memandang rendah pada anggota masyarakat film  yang berasal dari panggung (Anak Wayang) dan juga mereka banyak mengkritik tentang mutu cerita, pemain yang kaku dsb.

                Orang dunia film ternyata sangat merespon sikap kalangan terpelajar dan mereka berusaha menarik kalangan terhormat untuk main film. Ceritanya juga mulai dipilih yang tidak “kampungan” dan lahirlah “Djantoeng Hati” (1941) yang dimainkan oleh Chatir Harro (seorang terpelajar lulusan setingkat SLA) dan Rd. Rr. Ariati (keturunan ningrat berpendidikan perawat, setingkat SMP). Masuknya para pemain dari kalangan terpelajar mereka expose sebagai publisitas besar, bahwa dunia film tidak lagi terdiri dari kalangan bawah. Kemudian  seorang mahasiswa fakultas kedokteran dan tokoh pemuda pergerakan bernama Drs. A. K. Gani bersedia main dalam film “Asmara Moerni” (1941) hanya untuk mengangkat film Indonesia, akan tetapi kritikan kalangan terpelajar semakin tajam karena tindakan Drs. A. K. Gani ikut serta bermain film dinilai sebagai mencemarkan perjuangan kemerdekaan.

C. Meninggalkan Kalangan Terpelajar

                Tuntutan kalangan terpelajar tidak akan terjangkau oleh kalangan film yang didominasi oleh orang Cina pedagang dan orang panggung, maka semua orang film memutuskan untuk hanya melayani penonton kalangan bawah. Mereka hanya membuat film untuk penonton yang tidak banyak menuntut. Sikap kalangan terpelajar yang menuntut terlalu tinggi akan terulang dalam sejarah perfilman tanah air dan juga terulang hanya melayani penonton kalangan bawah serta meninggalkan kalangan terpelajar.

D. Mendadak Berhenti

                Pada akhir tahun 1941, sudah terasa dampak Perang Dunia II akan tiba di Indonesia. Bala tentara Jepang yang sudah menguasai daratan Cina, Vietnam, Burma dsb. akan memasuki selat Malaka dan negeri ini. Tetapi para pembuat film sepertinya tidak percaya, karena masyarakat merasa “aman” dengan pertahanan Belanda lagipula didatangkan tentara dari Australia sedangkan di utara diberikan pertahanan khusus oleh Inggris.

                Sulit dibayangkan, tentara Jepang menyapu seperti angin badai, Singapura jatuh dalam waktu 5 jam dan Belanda menyerah tanpa syarat dalam waktu 10 hari. Langkah pertama yang diambil oleh jepang adalah menutup semua studio film karena semua pemilik perusahaan film adalah bangsa Cina. Jepang menginginkan agar semua kesenian termasuk film harus menjadi penunjang cita-cita mendirikan Asia Timur Raya. Semua film yang dibuat oleh Cina selama ini hanyalah film hiburan yang tidak berisi dan Jepang tidak ingin film buatan Cina membawa pengaruh buruk.

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Myself

Blog Stats

  • 137,379 hits

Follow Me

Tweets

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d bloggers like this: