//
you're reading...
Film

Faktor Determinan dalam Film


Jika struktur film dibangun menggunakan shot, scene dan sequence maka hal itu merupakan bentuk fisik. Sedangkan film memiliki faktor determinan (sesuatu yang baku). Faktor tersebut meliputi subjek sinematik, tata kamera, editing dan totalitas.

Faktor Determinan 1

Subjek sinematik

 adalah subjek dan objek hasil tangkapan kamera (rekaman kamera yang terlihat dan terdengar), atau segala hal yang kita dapatkan dari menonton itulah yang disebut subjek sinematik, rinciannya meliputi:

a. Tokoh

tokoh atau watak menjadi faktor penting dalam cerita, kebanyakan tokoh dalam film berupa manusia namun ada juga yang menampilkan tokoh berupa Hewan, Benda atau Alam.

Tokoh dalam subjek sinematik adalah tentang perwatakan yang bersumber dari aspek fisik dan non-fisik, seperti:

  • Raut wajah
  • Bentuk tubuh
  • Tata rambut
  • Busana/Pakaian

b. Ruang/Set

adalah tempat berlangsungnya kejadian atau peristiwa. Sebagai faktor determinan, ruang/Set sangat doiperlukan perannya untuk memberi tanda-tanda dan identitas secara visual. Audience memerlukan referensi mengenai tempat kejadian dan audience juga merasa tidak nyaman dan akan terus menerus bertanya dalam hati sebelum tahu atau memperoleh informasi dimana kejadian itu berlangsung.

Ruang atau Set dalam film sebagai subjek sinematik bukan hanya diperlukan untuk terjadinya peristiwa, melainkan juga memberikan nilai peristiwa dan segala masalahnya. Sebagaimana kita kenal dalam kehidupan mempunyai ciri khas dan kegunaan masing-masing, misalnya sebuah ruang tidur yang diperlihatkan tanpa kata-kata atau pernyataan lain dapat menggambarkan kepada audience apakah ruang tidur itu milik orang kaya atau seperti milik orang kebanyakan. Demikian juga bentuk dan ukuran ruang akan menjelaskan banyak hal sesuai dengan ciri dan kegunaannya.

c. waktu

waktu dalam kehidupan sehari-hari dinyatakan dengan sekian detik, menit, jam dan seterusnya. Itu merupakan waktu nyata atau real time.

Dalam film, terdapat2 kemungkinan waktu yaitu real time dan film time. Film time, film yang mempunyai masa putar 2 jam dapat memuat kisah yang berlangsung selama setahun bahkan puluhan tahun. Hal itu dimungkinkan karena penceritaan film tidak seluruhnya urut, detil dan lengkap. Banyak sekali adegan bahkan sebagian besar adegan dalam film telah dipadatkan sedemikian rupa namun penonton tetap dapat menerimanya. Di samping, Film time mampu memadatkan real time menjadi film time, sebaliknya film time dapat memanjangkan real time yang singkat menjadi film time  yang panjang.

Bagaimana pun film time telah mengecoh audience namun tidak ada yang merasa ditipu, karena inilah kemampuan film. Sehingga film dapat tampil sebagai seni yang mempunyai keunikan dan keunggulan tersendiri.

d. peristiwa

peristiwa atau kejadian adalah segala yang kita alami dalam sehari-hari, namun dalam film memilih kejadian tertentu yang disajikan kepada audience. Alasannya tidak semua kejadian perlu disajikan dan tidak semua kejadian menarik, jadi hanya kejadian/peristiwa yang relevan dan terpilih.

e. Suara

sebagai subjek sinematik, suara menunjang gambar karena sejauh ini unsur visual merupakan materi yang utama sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini ada kaitannya dengan kemampuan mata menyerap gambat jauh lebih cepat dan efektif daripada telinga menyerap informasi melalui suara.

Fungsi suara untuk dipahami, hanya terdengar atau didengar dan untuk membentuk nilai dramatik. Pada fungsi untuk dipahami, berarti informasi yang disampaikan bersifat penting dan audience dituntut untuk memahami isi pesan. Sedangkan pada sekedar untuk terdengar atau didengar menunjukkan bahwa unsur suara pada adegan yang bersangkutan diperlukan namun bukan hal yang penting (efek suara). Jika suara difungsikan untuk membentuk nilai dramatik, maka suara tersebut memiliki nilai yang penting (illustrasi musik)

Komponen suara dalam subjektif shot meliputi:

  • Dialog
  • Efek suara
  • Atmosfer
  • Illustrasi musik
  • Narator/Voice over

Faktor Determinan 2

Tata kamera

Film sebuah media yang unik, masalah-masalah komposisi yang harus dihadapi Sutradara dan Kameramen juga unik. Mereka harus sadar bahwa setiap shot tidak lebih dari satu ruas suatu unsur pendek dalam sebuah arus citra visual yang berkesinambungan (continuity). Salah satu aspek yang sulit dalam memciptakan sebuah shot ialah  karena citra itu sendiri bergerak dan selalu berada dalam keadaan berubah terus-menerus, Oleh karena itu mustahil untuk membuat setiap frame dalam sebuah shot berdasarkan prinsip-prinsip keindahan dalam fotografi. Setiap shot harus dirancang dengan mengingat tujuan sinematik.

Mekanisme kamera

Mekanisme atau cara kerja kamera dibagi dalam 2 pengertian mendasar, yaitu Internal dan Eksternal kamera.

a. Internal kamera

Kemampuan operasional yang terjadi didalam kamera. Cara kerja didalam kamera berkaitan dengan hasil tangkapan/rekaman diluar yang sudah baku (kemampuan membuat gambar bergerak lebih cepat atau lambat dari normal), mekanisme ini khusus untuk film kamera.

b. Eksternal kamera

Mekanisme Eksternal kamera adalah cara kerja kamera dengan bantuan alat diluar badan kamera yang menopang dan membantu gerakan kamera dalam menangkap subjek/objek. Gerakan kamera selain untuk menangkap subjek/objek juga dapat memberi penekanan perhatian, gerakan-gerakan kamera yang dibantu oleh alat pendukung antara lain:

  • Paning
  • Tilt
  • Zoom
  • Track
  • Angle
  • Lensa Normal
  • Lensa Wide
  • Tele

Selain yang disebutkan tadi, terdapat tipe-tipe penempatan kamera yang menimbulkan kesan yang berbeda-beda pada penonton, yaitu:

a. Objective Camera

Kamera melakukan pengambilan dari garis titik pandang. Karena peristiwa yang disajikan bukan dari pandangan siapapun yang berada di layar (adegan), maka angle dari kamera objektif tidak mewakili siapa pun. Subjek (peran/tokoh) akan tampak tidak menyadari adanya kamera dan tidak pernah memandang ke arah lensa biarpun hanya sebuah lirikan.

b. Subjective Camera

Kamera subjektif membuat perekaman film dari titik pandang seseorang. Penonton berpartisipasi dalam peristiwa yang disaksikannya sebagai pengalaman pribadi. Penonton seakan-akan berada di suatu tempat dalam adegan, penonton juga dilibatkan dalam film, ketika subjek dalam adegan memandang ke lensa yang seakan-akan memandang (dan berbicara langsung) dengan penonton.

c. Point of View

Point of view merekam adegan dari titik pandang pemain tertentu. Point of view berada diantara Objektif dan Subjektif, maka angle ini harus ditempatkan pada kategori yang terpisah dan diberi pertimbangan khusus. Seringkali diikuti dengan shot-shot lewat bahu (OTS) kalau sepasang objek saling berhadapan dan terlibat percakapan. Shot OTS membangun hubungan antar pemain dan Point of View menggerakkan penonton pada posisi pemain.

Faktor Determinan 3

Editing

Tiap karya seni membutuhkan 2 faktor penting, yaitu materi dan metoda kreatif. Dalam film, adalah sinematik shot sedangkan metodanya adalah editing. Editor dianggap objective karena tidak menyaksikan shoting dan apa yang terjadi di luar frame.

Editing adalah sebagai sarana bertutur sinematik karena berhadapan dengan material hasil rekaman sedangkan sutradara masih menghadapi konsep teatrikal (melihat kenyataan).

Ray Thompson dalam “Grammar of the Edit” berpendapat, bahwa editing adalah suatu transisi diantara 2 shot dengan menggunakan salah satu dari 3 format, yaitu Cut, Mix dan Fade.

Josep V. Mascelli dalam “The Five C’s of Cinematography” berpendapat, editing film bisa dibandingkan dengan memotong, mengasah dan menyunting berlian. Berlian masih dalam bentuk bongkahan itu tidak bisa dikenali, bongkahan itu harus dipotong dulu, di asah dan disunting dengan ikatan agar keindahannya dapat dihargai

Semua shot menggunakan 4 elemen yang penggunaannya dapat membedakan satu dan lainnya, yaitu:

  • Lensa
  • Kamera
  • Mounting
  • Subjek

Type of Shot for Editor

Editor membaca shot dengan pedoman 3 tipe shot sebagai berikut:

a. Simple Shot

  • No lens movement
  • No camera movement
  • No mounting movement
  • A simple subject movement

b. The Complex Shot

  • A lens movement
  • A camera movement
  • No mounting movement
  • A simple subject movement

c. The developing Shot

  • A lens movement
  • A camera movement
  • A camera mounting movement
  • A complicated subject movement

Peace, Love and Empathy

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Myself

Blog Stats

  • 137,379 hits

Follow Me

Tweets

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d bloggers like this: