//
you're reading...
Film

Sejarah Film Indonesia part I


Masa Perintisan dan Percobaan

(1926-1938)

A. Dirilis oleh Belanda

                Setahun setelah munculnya usul di penerbitan De Locomotive, 1925 agar di negeri ini membuat juga film cerita sebagaimana yang dilakukan oleh Orang Burma dan 2 orang Belanda, L. Heuveldorp dan G. Kruger yang mengambil keputusan untuk membuat film cerita pertama.

                Menurut kabar, L. Heuveldorp sudah berpengalaman di Hollywood sedangkan G. Kruger adalah seorang Indo-Belanda yang tinggal di bandung, Dia juga seorang pembuat film non-cerita dan Adik menantu dari “Raja” Bioskop di Priangan. Mereka memdirikan prusahaan film bernama Java Film Coy dan memilih bandung sebagai tempat mereka dikarenakan alam Priangan memberikan banyak peluang bagi pembuatan film dan juga suhu uadaranya yang sejuk. Langkah mereka ini disambut baik oleh Bupati Bandung, Wiranata Kusumah V. Bupati ini sedang bersemangat ingin mengembangkan kebudayaan Sunda. Ia telah menyuruh orang untuk menyusun legenda Sunda “Lutung Kasarung” (film cerita pertama yang dibuat Indonesia) lalu Beliau menyarankan pada Kruger dan Heuveldorp untuk dipakai sebagai cerita dari film yang akan mereka buat. Bupati akan menunjang semua fasilitas dengan semampu Beliau bahkan mengijinkan para keponakannya yang cantik-cantik ikut andil.

                Heuveldorp dan kruger setuju mangambil “Lutung Kasarung” karena menurut mereka cerita legenda dari negeri jajahan kemungkinan mempunyai daya tarik di Belanda. Seluruh pengerjaan film “Lutung Kasarung” dilakukan berdua saja, pembuatan set dilaksanakan oleh tukang seadanya termasuk gua tiruan. Pembuatan film pertama dalam sejarah ini dirasakan oleh para pembuatnya sebagai suatu peristiwa besar, maka dalam iklan dari pemutaran film perdana ini tanggal 13 Desember 1926 dipersembahkan kepada Gubernur Jendral, Wakil Ratu Belanda dan Penguasa tertinggi Belanda di Hindia Belanda.

                Produksi kedua java film adalah “Eulis Atjih” (1927) yang berbau Antroplogik, cerita tentang isteri yang disia-siakan oleh suami yang selalu berfoya-foya. Ketika film kedua ini dibawa ke Belanda, film ini tidak berhasil menarik perhatian orang disana. Setelah itu L. Heuveldorp mengundurkan diri dan Kruger meneruskan usaha ini seorang diri. Perusahaannya diberi nama Kruger Filmbedrijf dan menghasilkan film berjudul “Karnadi Anemer Bangkong” (1930) dan “Atma De Visher” (1931) tetapi kurang menarik minat penonton.

                Tahun 1930, Orang Belanda lainnya yaitu F. Carli mengikuti langkah Kruger, perusahaannya bernama Cosmos Film Corp. (Kinowerk Carli) memproduksi “De Stem des Bloed” (Nyai Siti) lalu “Karina’s Zelfopoffering” (1932). Para pemainnya gagah dan cantik, namun hasil dari film ini tidak memuaskan karena orang Belanda tidak suka orang Indonesia dan orang indonesia tidak tertarik pada persoalan yang disampaikan. Pekerjaan membuat film ini kelihatannya kurang cocok bagi orang Belanda karena terlalu banyak resikonya dan kegiatan film Carli pun berakhir pada tahun 1932.

B. Cina Ambil Alih

                Meski penduduk etnis Cina memiliki sebagian besar gedung bioskop di negeri ini, namun sampai tahun 1927 mereka tidak tertarik dalam pembuatan film, mereka lebih memilih menonton daripada membuatnya.

                Suatu hari, Tio Tek Djin pimpinan rombongan opera terkenal “Miss Riboet Orion” mengetahui bahwa Nelson Wong bisa membuat rekaman dengan kamera film. Ketika rombongannya sedang main di Bali, Nelson merekam keadaan disana dengan kamera kotak dari kayu yang dibawa dari Shanghai. Tadinya Nelson adalah produser film di Shanghai yang sudah memproduksi sejumlah film bahkan pernah di ekspor ke negeri ini, kemudian perusahaannya bangkrut dan merantau ke Jawa.Tio pun tergugah untuk membuat film cerita dengan pemain utamanya “Miss Riboet” sang primadona yang tidak lain ialah istrinya. Ia yakin bahwa film yang digarapnya akan laku karena istrinya adalah primadona di Opera “Miss Riboet Orion” di masa itu. Nelson pun menyambut baik keinginan Tio. Terjalin perjanjian, Tio mendatangkan 2 adik dari Nelson dari Shanghai yaitu Yoshua dan Othniel Wong dan bahkan kedua orang tua mereka ke Bandung. Kemudian Tio mambeli sebuah bangunan bekas pabrik kartu gaplek untuk dijadikan studio film. Lalu test kamera pun dimulai dengan calon bintang utama dan ternyata hasilnya mengejutkan Tio bahwa wajah sang primadona tidak terlihat cantik di depan layar kamera (camera face), Tio pun mengurungkan niatnya untuk membuat film. Namun Ia bisa tetap dianggap berjasa dalam sejarah film karena berkat keberaniannya untuk memulai langkah ke dunia film.

                Tahun 1928, 3 kakak beradik Wong (Nelson, Yoshua dan Othniel) yang menyebut diri mereka sebagai Wong Brothers mendapat penyandang dana dari Batavia (nama jakarta tempo dulu) yaitu David Wong. Mereka memdirikan perusahaan Halimun Film dan memfilmkan “Lily Van Java” (1928), kisah seorang gadis anak Cina hartawan yang akan dinikahkan secara paksa padahal Dia sudah mempunyai kekasih, penghasilan film ini tersendat karena David Wong tidak meneruskan usahanya.

                Orang Cina betul-betul tergugah untuk berusaha di bidang film meski film pertama buatan Cina tidak begitu memuaskan. Di tahun 1929, lahir 3 perusahaan baru di Batavia yaitu Tan’s Film, Nansing Film dan milik Tan Boen Swan. Wong brothers juga dapat penyandang dana baru dan mereka mendirikan Batavia Film. Nansing Film dan perusahaan Tan Boen Swan tetap mengandalkan penonton kalangan Cina dengan membuat “Resia Borobudur” (1929) dan “Setangan Berloemoer Darah” (1929), kedua film tersebut bernuansa roman Melayu-Cina tapi Tan’s Film dan Batavia Film ingin juga mendapatkan penonton pribumi dengan membuat “Njai Dasima” dan Si Tjonat”. Film “Njai Dasima” yang masih bisu ini cukup banyak menarik perhatian, produser Tan Khoen Yauw yang juga pemilik bioskop “Rialto” di Pasar Senen, Batavia cukup paham selera penonton bawah. Cerita Dasima dibuat dalam 3 seri (Njai Dasima I, Njai Dasima II dan Nancy bikin Pembalesan) tapi “Si Tjonat” kurang mendapatkan penonton karena penyandang dana mereka mengundurkan diri

                  Namun usaha Wong Brothers dapat berlanjut karena ada saja penyandang dana baru yang datang. Wong memfokuskan perhatiannya pada film-film bernuansa Action sedangkan Tan’s Film tergiur membuat film yang lebih Bermutu “Melati Van Agam” (1930) karya wartawan ternama, yaitu Parada Harahap tetapi film ini tidak laku karena terlalu bertele-tele. Penyandang dana untuk Wong kemudian tertarik untuk membuat film komedi karena melihat suksesnya pemasaran film lucu buatan Hollywood saat itu seperti yang dimainkan Charlie Chaplin. Halimun Film membuat film berjudul “Lari Ka mekah” (1930) tetapi lembaga sensor Belanda melarang menggunakan nama Mekah sebagai judul film, judul pun dirubah menjadi “Lari Ka Arab”.

C. Revolusi Film yang Bicara (Talking Picture)

                2 tahun setelah di Amerika dipertunjukkan “talking picture” atau film yang bisa bicara, diputarlah film yang bisa bicara “The Rainbowman” dan “Fox Follies” di Indonesia, tentu saja penontonnya berlimpah ruah ingin melihat gambar yang bisa bicara. Para pembuat film di Indonesia juga ingin membuat fim bicara, mereka pikir film mereka akan laku karena bahasanya dapat dimengerti oleh penonton daripada film Amerika. Untuk membuat film bicara diperlukan kamera yang bisa merekam suara, tentu saja harganya sangat mahal bagi para produser di Indonesia tapi ternyata 2 orang asal belanda (Pegawai PTT dan guru teknik di Bandung) bernama Morris dan Lemmens mampu merubah kamera model lama menjadi kamera yang bisa merekam suara. Dengan bantuan mereka kamera milik Tan’s Film, Halimun Film dan The Teng Chun (perusahaan pendatang baru) tetapi tentu saja hasilnya kurang sempurna.

                Tan’s Film di Batavia dan Halimun Film di Bandungdalam waktu yang bersamaan membuat film bicara pertama di Indonesia, Tan’s Film membuat “Njai Dasima” (1931) dan Halimun Film “Zuster Theresia” (1931) maka film bicara Indonesia pertama adalah “Njai Dasima” dan “zuster theresia”. The Teng Chun, pemuda peranakan yang baru kembali dari perantauan membuat film bicara “Boenga Roos dari Tjikembang” (1931) yang ditujukan untuk kalangan Cina. Produksi film pertama perusahaan The teng Chun (Cino Motion Pict.) ini kurang baik pemasarannya karena suaranya sangat jelek lalu mereka banting stir memfilmkan cerita Tiongkok kuno. Pertama Ia membuat film “Sam Pek Eng Tai” (1931) ternyata mendapat cukup banyak perhatian dari penonton Cina peranakan.

                Wong tidak mengikuti jejak The Teng Chun karena Wong tidak paham budaya Cina karena mereka dibesarkan dalam keluarga Kristen, di samping itu Wong Brothers sangat tergantung pada penyandang dana. Kali ini yang menjadi penyandang dana ialah orang Indo-Belanda Tjo Schilling, seorang pelawak radio yang populer di Bandung. Mereka membuat “Tjo Speelt Voor De Film” (1931) ternyata film ini sangat tidak disukai Belanda karena dirasa membuat malu orang kulit putih.

                Diantara hiruk pikuk orang Cina buat film, Kruger dan Carli malah menyepi. Tahun 1932, Kruger bekerjasama dengan Tan’s Film bertindak sebagai kameramen dan membuat  “Terpaksa Menikah”.

D. Masa Krisis

                Di penghujung tahun 1932, terdengar kabar burung bahwa ada perusahaan Amerika akan memdirikan studio film di Indonesia. Sontak membuat ciut para produser di Indonesia, alhasil Tan’s Film ditutup. Yang bertahan hanya Cino Motion Picture. Kebalikan dari para produser yang ketakutan meneruskan usahanya, wartawan Albert Balink malah ingin memulai usaha pembuatan film. Pada tahun 1933, balink dengan modal pinjaman mengajak Wong Brothers bekerjasama mendirikan perusahaan Java Pasific Film dan menggarap cerita “Pareh” (bahasa sunda: Padi) untuk menjadi film yang serba berkualitas. Tahun 1935, Albert menemukan Rd. Mochtar setelah mencari para pemain lebih dari setahun, Albert menilai Mochtar ideal untuk bintang film karena tingginya diatas rata-rata orang pribumi pada waktu itu dan Albert mendatangkan tokoh dokumenter dari Belanda yaitu Mannus Franken. Pencucian film dan pembuatan ilustrasi musiknya dikerjakan di negara belanda, pengambilan gambar oleh Mannus bernilai Artistik dan tidak statis. Hasilnya pun cukup mengesankan. Film “Pareh” (1935) banyak dibicarakan dan mendapat pujian, hanya saja pemasukan tidak sebanding dengan pengeluarannya akhirnya Albert dan Wong Brothers bangkrut.

                Sebaliknya The Teng Chun pada tahun 1936 mulai take off mengganti namanya menjadi JIF (Java Industrial Film) bisa dikatakan bahwa The Teng Chun ini sebagai perintis dalam menjadikan usaha pembuatan film sebagai suatu yang dikelola dengan mantap dan di priode berikutnya bendera JIF berkibar paling tinggi.

                Albert Balink yang telah bangkrut, berhasil mendapat pinjaman. Awal tahun 1937 Ia mendirikan studio film paling modern di daerah Polonia, Batavia. Nama perusahaannya ANIF (Algemeene Nederlands indie Film Syndicaat). Lalu Albert mengajak Wong Brother yang telah bangkrut ke dalam perusahaan ini untuk menangani labotarium dan kamera film cerita. Tugas ANIF yang disetujui oleh penyandang dana adalah membuat film dokumenter untuk konsumsi negeri Belanda tapi Albert mengutamakan pembuatan film cerita dengan membuat film”Terang Boelan” (1937) dengan mengajak wartawan Saeroen, awalnya untuk membantu penulisan naskah berbahasa Indonesia tetapi justru terlibat lebih dalam. Saeroen memasukkan unsur daya tarik tontonan panggung ke dalam “Terang Boelan”, selain Mochtar (pemain film Pareh), pemain seluruhnya berasal dari panggung/Opera termasuk Miss Roekiah dan suaminya Kartolo dan pemain band populer di masa itu yaitu “Lief Java”. Alhasil film “Treang Boelan” meledak di Indonesia. Sukses keuangan yang begitu besar dari film “Terang Boelan” tidak merupakan kejayaan bagi Albert, para penyandang dana tidak setuju perusahaan ini membuat film cerita. Lalu Albert memutuskan pergi ke Amerika dengan patah hati, sebelumnya Albert memberikan keuntungan film tersebut kepada Wong Brothers, jumlahnya pun cukup besar. Hingga Wong Brothers mendirikan studio film yang cukup besar tidak jauh dari ANIF.

                     Dengan lahirnya “Terang Boelan” maka berakhirlah masa Periode Perintisan dan Percobaan dan sekarang sudah ditemukan pola resep dari film yang bisa diterima penonton Indonesia, sebagaimana yang digunakan oleh “Terang Boelan”.

Peace, Love and Empathy

Dikutip dari berbagai sumber

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Myself

Blog Stats

  • 137,379 hits

Follow Me

Tweets

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d bloggers like this: