//
you're reading...
Film

Sejarah Film Indonesia part V


Masa Pembenturan Konsep

(1957-1965)

PKI (Partai Komunis Indonesia) yang melakukan makar pada tahun 1948 terhadap Pemerintah RI dan telah mati, pada tahun 1950 dihidupkan lagi. Sejak PKI bangkit lagi sudah memperlihatkan perhatian yang sungguh-sungguh untuk menguasai kebudayaan. Memasuki tahun 1957, PKI rupanya merasa sudah mantap untuk melakukan “invasi” ke bidang kebudayaan secara terbuka. Kasusnya adalah peristiwa “Tutup Studio” dan targetnya adalah Usmar dan Djamaludin Malik berikut bawahannya sedangkan yang menyerbu adalah mereka yang bersimpati pada garis PKI. Koran “Bintang Timur” yang paling hebat menyerang kaum non komunis adalah koran Partindo. Invasi kebudayaan yang dimulai dari dunia film ini nampaknya bukan soal kebetulan tetapi sudah mereka hitung, karena mereka “orang kiri” sulit menembus para seniman di bidang seni lain. Seniman film lebih gampang untuk dijadikan sasaran dan berita yang keluar dari dunia film selalu akan menjadi berita yang luas ke seluruh negeri.

A. Pemicu Kasus

                “orang kiri” sebetulnya memang sejak lama merasa kesulitan mendapat tempat dalam dunia film, Sarbufis (Serikat Buruh Film dan Sandiwara) yang mereka dirikan tidak mendapat tempat ketika PARFI dibentuk. Penghalang utamanya adalah Djamaludin dan Usmar yang keduanya tidak suka pada komunis. Peristiwa “Tutup Studio” sebeenarnya tidak ada kaitannya dengan kalangan kiri, tetapi karena sekarang mereka sudah merasa kuat maka kasus itu mereka jadikan pemicu pertikaian. Mereka mengecam tindakan “Tutup Studio” atas 2 alasan, yang pertama adalah tindakan pengecut dan kedua adalah menolak bahwa yang dikatakan sebagai penyebab kematian adalah masuknya film India. Menurut mereka, yang membunuh film Indonesia adalah film Amerika. Mereka menjadikan Djamaludin dan Usmar sebagai target serangan, terutama Usmar yang dituduh sebagai agen Amerika.

                Mereka menguraikan semua alasan bahwa film Amerika yang menjadi biang keladi, antara lain dengan memperlihatkan daftar kuota import bahwa film Amerika paling banyak masuk daripada film India. Sebenarnya secara langsung film Amerika tidak membahayakan pasar film Indonesia, yang merebut pasar adalah film India karena walau sedikit tetapi waktu tayangnya diperpanjang. Lalu kenapa mereka salahkan film Amerika?? Karena ini adalah strategi besar mereka untuk menghapus film musuh/anti komunis dan mempengaruhi opini masyarakat untuk membenci film Amerika. Gerakan anti film Amerika akan mereka matangkan selama 7 tahun, mereka cetuskan tahun 1964 dalam aksi PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialism Amerika Serikat).

B. Perpecahan Menjadi 2 Kubu

                Tidak lama setelah aksi tutup studio, Djamaludin Malik ditangkap pemerintah atas tuduhan yang tidak jelas sedangkan Perfini disita oleh Bank karena tidak mampu membayar hutang. Usaha perfini untuk menolong diri dengan membuat film hiburan “Tiga Dara” (1956), film tersebut sangat laku, hujatan kalangan kiri yang menghantam Usmar sebagai pelacur kebudayaan dan kaki tangan Amerika tidak begitu terkesan karena mereka belum mampu menarik simpati.

                Kedudukan PKI dalam percaturan politik menjadi sangat kuat sejak tahun 1959 karena PKI bersama PNI dan NU untuk mendukung keinginan Presiden Soekarno untuk meninggalkan “UUD Sementara” dan kembali menggunakan “UUD 1945” yang merubah kedudukan Presiden yang semula hanya sebagai lambang menjadi Kepala Pemerintah. PKI memanfaatkan kekuatan Soekarno tersebut dengan amat baik, menanam akar di seluruh jaringan Pemerintah dan ABRI. Film Asrul Sani “Pagar Kawat Berduri” (1961) yang sudah lolos sensor, mereka menentang agar ditarik dari peredaran karena penonton akan dibuat bersimpati kepada Opsir Belanda. Bagi mereka, semua Belanda harus dipandang sebagai penjahat. Badan Sensor Film (BSF) tidak berani melawan hingga film tersebut diputar dihadapan Presiden Soekarno untuk mendapat keputusan, lalu Soekarno mengizinkan film itu diputar tetapi tetap peredarannya tidak berjalan.

                Memasuki tahun 1960-an, dunia film telah jelas terbagi 2 Blok. Djamaludin yang sudah bebas pada tahun 1959, akhirnya pada tahun 1962, Djamaludin selaku ketua 2 NU berhasil mendorong partai NU untuk mendirikan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) dengan ketua umum usmar Ismail, Ketua 1 yaitu Asrul Sani, dan sebagai Sekjen adalah Pengarang Anas Ma’ruf. Kalangan kiri tidak bisa berbuat semena-mena lagi terhadap mereka karena NU juga ikut kuat disamping Soekarno. Upaya kalangan kiri untuk menguasai PARFI tidak pernah berhasil. Pada tahun 1964, PARFI yang anggotanya adalah campuran semua seniman film di khususkan hanya sebagai organisasi artis saja. Untuk seniman yang berada di belakang kamera dll. mendirikan IKFT (Ikatan Karyawan Film dan Televisi) yang berada dijajaran non-komunis.

                Kuantitas serangan tetap lebih berada di tangan kalangan kiri. Mereka bisa melakukan tuduhan, hujatan, caci maki semau mereka saja. Terutama di koran “Bintang Timur” yang lembaran kebudayaannya diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer, mereka bisa melontarkan ideologi seni yang rapi menurut ideologi komunis karena sudah dikemas oleh atasan mereka di Moskow atau Peking. Berapa pun situasi itu membuat orang harus berpikir keras untuk menemukan jawaban.

C. Menanggulangi Krisis

                Sebagaimana telah diungkapkan, bahwa begitu studio film dinyatakan beroperasi kembali keadaan indusri pembuatan film ini dalam keadaan serba lumpuh. Hanya tahun 1960 jumlah produksi agak naik dikarenakan peluang baik bagi pemasaran yang diperlihatkan oleh lakunya beberapa lakunya film hiburan buatan Usmar, akan tetapi segalanya melesu lagi dan ini akan terus berkepanjangan sampai melampaui periode ini. Sejak tahun 1962 seluruh studio praktis berhenti bekerja, hanya sesekali disewakan kepada produser freelance. Sejak saat itu, pembuatan film yang jumlahnya tidak banyak dilakukan di luar studio, mengambil rumah orang sebagai set dan crew film bukan lagi pegawai studio tetapi tenaga lepas yang dikontrak per produksi.

                Djamaludin Malik yang keluar dari tahanan berupaya membangkitkan semangat dengan cara menyelenggarakan FFI yang kedua tahun 1960. Tetapi upaya ini tidak memberikan banyak arti, kemudian usmar dan Djamaludin mendesak pemerintah agar instansi-instansi membuat film, dengan begitu produser dapat melakukan kegiatan dan Pemerintah juga ada pemasukan. Usul pun diterima, beberapa instansi membiayai pembuatan film yang dikaitkan dengan kegiatan masing-masing. Upaya ini juga tidak menolong, terutama karena pembuatan film dengan cara ini tidak begitu mempertimbangkan pasar melainkan asal “pesan” sponsor mencukupi.

D. Film Yang Bagus

                Masa yang pelik ini yang penuh pertentangan dan kekurangan dana justru telah mampu melahirkan sejumlah film yang bagus. Usmar melahirkan film “Pedjoang” (1960), “Anak-anak Revolusi” (1964), Asrul membuat film “Pagar Kawat Berduri” (1961), “Tauhid” (1964), Bachtiar Siagian membuat film “Piso Surit” (1960) dan “Violetta” (1962) dan Wim Umboh menghasilkan film “Matjan Kemayoran” (1965).

E. Kemelut Berkepanjangan

                Memasuki tahun 1964, nama Soekarno berada dipuncak sebagai pimpinan perjuangan rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin (AAA) yang beliau namakan sebagai “The New Emerging Forces”. Yakni kekuatan baru yang sedang melawan “kekuatan lama”/neo-kolonialism khususnya Amerika. Indonesia keluar dari keanggotaan PBB dan akan membuat PBB sendiri yang disebut CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) lalu muncul GANEFO (Game of the New Emerging Forces) untuk sport dan untuk film diselenggarakan FFAA (Festival Film Asia Afrika). Pada penyelenggaraan FFAA tahun 1964 yang diselenggarakan di Jakarta, digunakan oleh kalangan kiri untuk menjebak orang film yang selama ini mengambang dan mematangkan permusuhan terhadap Amerika. Orang film yang buta politik banyak yang berpartisipasi pada penyelenggaraan FFAA karena dibelakangnya berdiri Soekarno. Kalangan kiri yang menguasai seluruh kepanitian FFAA mencetuskan PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film imperialism Amerika Serikat) yang mereka klaim didukung oleh seluruh artis pendukung FFAA.

                Tujuan PAPFIAS adalah melarang berputarnya semua film Amerika dan sekutunya dengan begitu film Indonesia akan leluasa menguasai pasar. Kantor peredaran film Amerika, dibakar. Untuk kekuatan secara brutal initernyata tidak ada yang berani menentang, Presiden Soekarno juga diam saja sehingga kalangan kiri sudah berada dipuncak.

                Di sisi lain, kalangan Usmar dan Djamaludin berhasil mengusahakan lahirnya Penpres (Penetapan Presiden) no. 1/1964 yang menunjuk Kementerian Penerangan sebagai Pembina Perfilman. Ini yang sudah lama ditunggu orang film, yakni adanya suatu kementerian yang menjadi “Bapak” bagi dunia perfilman yang akan melindungi dan mengembangkan. Penpres 1/1964 ini ditentang PAPFIAS karena yang mengusahakan pihak lawannya, terutama karena penpres ini menyebutkan bahwa dasar dari pembinaan perfilman adalah Pancasila. Penetapan yang dikeluarkan oleh orang paling berkuasa saat itu, ditentangnya. Ketika PAPFIAS menyelenggarakan Mubes (Musyawarah Besar) pada akhir tahun 1964, kalangan non-komunis juga menyelenggarakan Mubes untuk mendukung PenPres 1/64. Tapi upaya non-komunis hanya sekedar reaksi tak berarti, maka kementerian penerangan sendiri tidak berani segera menjalankan tugas Penpres ini dengan aktif.

                Semua film Barat berhasil dibersihkan dari bioskop Indonesia, film Indonesia dengan leluasa masuk tapi PAPFIAS  tidak berhasil mengangkat film Indonesia, penontonnya tetap sepi meski tanpa saingan. Film asing yang dapat diputar adalah dari Rusia, Eropa Timur dan RRC. Dalam tempo yang singkat banyak bioskop yang berganti fungsi menjadi gudang, pertunjukan wayang orang atau tutup sama sekali tapi tidak ada yang menyalahkan PAPFIAS. Memasuki tahun 1965 posisi kalangan kiri sudah sangat mantap, situasi sudah siap bagi mereka untuk mengambil alih kekuasaan. Ketika G/30/S meletus tahun 1965, beberapa pekerja film malah ada yang dipekerjakan sebagai pasukan yang melakukan penyerbuan ke rumah jendral.

                Begitu gerakan makar G/30/S digagalkan, segera bisa dipastikan bahwa itu adalah ulah kaum komunis. Maka posisi di dunia film juga terbalik, para aktivis kalangan kiri di film ditangkap.

F. Akhir Priode V

                Berubahnya situasi setelah G/30/S tidak mengakhiri masa pelik ini karena keadaan tak menentu berkelanjutan sampai melewati tahun 1966. Karena Pemerintah juga masih dalam keadaan transisi. Periode ke VI akan dimulai setelah Pemerintah mulai menjalankan Penpres 1/64 di awal tahun 1967.

About Musa Angelo

Think like a scientist and Act like a maestro to created a Masterpiece.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 113 other followers

Myself

Blog Stats

  • 67,745 hits

Follow Me

Tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: